Oleh : Sepriadi Rokan
Petani Sawit Muda Rokan Hulu
Riau Provinsi penyumbang sawit terbesar di Indonesia, selama ini dikenal sebagai mesin devisa negara. Namun di balik angka-angka fantastis ekspor minyak sawit, nasib petani kecil justru semakin terhimpit. Mereka menanggung dampak paling pahit dari arus global dan produktivitas kebun yang terus merosot.
Harga sawit di pasar dunia ditentukan oleh fluktuasi global. Ketika permintaan menurun atau isu lingkungan mencuat, harga Tandan Buah Segar (TBS) ikut tertekan. Celakanya, yang paling terpukul adalah petani rakyat, bukan perusahaan besar yang punya modal dan jaringan kuat.
Lebih berat lagi, sebagian besar kebun sawit rakyat di Riau kini sudah berumur tua. Produktivitasnya anjlok, rendemen minyak rendah, dan biaya perawatan semakin tinggi. Program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang digagas pemerintah seolah menjadi solusi, tetapi kenyataannya masih berjalan lamban. Banyak petani terbentur persoalan legalitas lahan, akses modal, hingga birokrasi berbelit.
Sementara dunia terus bergerak dengan tuntutan sawit berkelanjutan dan bersertifikasi, petani Riau kian tertinggal. Tanpa sertifikasi, akses pasar mereka semakin sempit. Tanpa kebun muda yang produktif, mereka hanya bisa berharap pada harga yang kerap tidak berpihak.
Di tengah kondisi ini, petani sawit Riau sesungguhnya sedang menghadapi ancaman ganda: terdesak oleh arus global dan terjebak oleh kebun yang menua. Jika negara tidak hadir dengan solusi konkret—percepatan PSR, skema harga yang adil, hingga pendampingan menuju pasar berkelanjutan—maka petani hanya akan menjadi “pahlawan devisa” yang hidup dalam ketidakpastian.
Sawit memang emas hijau, tapi bagi petani Riau, emas itu kian redup jika hanya menyinari korporasi, sementara mereka tertinggal di ladang yang semakin renta.
Belum lagi konflik lahan yang membelit. Tumpang tindih izin, kebun di kawasan hutan, hingga benturan dengan perusahaan membuat petani sering kali berada di posisi lemah, bahkan rawan kriminalisasi.
Masa depan sawit Riau sejatinya ditentukan oleh keberpihakan negara. Apakah petani hanya dijadikan “alat” penyumbang devisa, ataukah benar-benar diangkat sebagai mitra sejajar?
Tanpa harga yang adil, kepastian lahan, akses pasar, dan dukungan peremajaan, petani sawit Riau hanya akan terus menjadi pahlawan devisa yang terpinggirkan di tengah arus krisis global.






