Petani Sawit Riau: Pahlawan Devisa Yang Kian Terjepit Di Tengah Kebun Tua

- Reporter

Monday, 8 September 2025 - 12:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Sepriadi Rokan
Petani Sawit Muda Rokan Hulu

Riau Provinsi penyumbang sawit terbesar di Indonesia, selama ini dikenal sebagai mesin devisa negara. Namun di balik angka-angka fantastis ekspor minyak sawit, nasib petani kecil justru semakin terhimpit. Mereka menanggung dampak paling pahit dari arus global dan produktivitas kebun yang terus merosot.

Harga sawit di pasar dunia ditentukan oleh fluktuasi global. Ketika permintaan menurun atau isu lingkungan mencuat, harga Tandan Buah Segar (TBS) ikut tertekan. Celakanya, yang paling terpukul adalah petani rakyat, bukan perusahaan besar yang punya modal dan jaringan kuat.

Lebih berat lagi, sebagian besar kebun sawit rakyat di Riau kini sudah berumur tua. Produktivitasnya anjlok, rendemen minyak rendah, dan biaya perawatan semakin tinggi. Program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang digagas pemerintah seolah menjadi solusi, tetapi kenyataannya masih berjalan lamban. Banyak petani terbentur persoalan legalitas lahan, akses modal, hingga birokrasi berbelit.

Baca Juga :  Menggugat Integritas OTT KPK: Mengapa Bukti Dicari Setelah Tersangka Ditahan?

Sementara dunia terus bergerak dengan tuntutan sawit berkelanjutan dan bersertifikasi, petani Riau kian tertinggal. Tanpa sertifikasi, akses pasar mereka semakin sempit. Tanpa kebun muda yang produktif, mereka hanya bisa berharap pada harga yang kerap tidak berpihak.

Di tengah kondisi ini, petani sawit Riau sesungguhnya sedang menghadapi ancaman ganda: terdesak oleh arus global dan terjebak oleh kebun yang menua. Jika negara tidak hadir dengan solusi konkret—percepatan PSR, skema harga yang adil, hingga pendampingan menuju pasar berkelanjutan—maka petani hanya akan menjadi “pahlawan devisa” yang hidup dalam ketidakpastian.

Baca Juga :  Ironi HAKORDIA: Bukti OTT Gubri Lemah, KPK Cari Headline

Sawit memang emas hijau, tapi bagi petani Riau, emas itu kian redup jika hanya menyinari korporasi, sementara mereka tertinggal di ladang yang semakin renta.

Belum lagi konflik lahan yang membelit. Tumpang tindih izin, kebun di kawasan hutan, hingga benturan dengan perusahaan membuat petani sering kali berada di posisi lemah, bahkan rawan kriminalisasi.

Masa depan sawit Riau sejatinya ditentukan oleh keberpihakan negara. Apakah petani hanya dijadikan “alat” penyumbang devisa, ataukah benar-benar diangkat sebagai mitra sejajar?

Tanpa harga yang adil, kepastian lahan, akses pasar, dan dukungan peremajaan, petani sawit Riau hanya akan terus menjadi pahlawan devisa yang terpinggirkan di tengah arus krisis global.

Berita Terkait

Brankas Bayangan di Rumah Dinas: Saat Narasi ‘APBD Defisit’ SF Hariyanto Runtuh oleh Tumpukan Dolar
Ironi HAKORDIA: Bukti OTT Gubri Lemah, KPK Cari Headline
Menggugat Integritas OTT KPK: Mengapa Bukti Dicari Setelah Tersangka Ditahan?
Berita ini 86 kali dibaca

Berita Terkait

Tuesday, 13 January 2026 - 20:43 WIB

Brankas Bayangan di Rumah Dinas: Saat Narasi ‘APBD Defisit’ SF Hariyanto Runtuh oleh Tumpukan Dolar

Wednesday, 10 December 2025 - 11:36 WIB

Ironi HAKORDIA: Bukti OTT Gubri Lemah, KPK Cari Headline

Friday, 5 December 2025 - 19:51 WIB

Menggugat Integritas OTT KPK: Mengapa Bukti Dicari Setelah Tersangka Ditahan?

Monday, 8 September 2025 - 12:04 WIB

Petani Sawit Riau: Pahlawan Devisa Yang Kian Terjepit Di Tengah Kebun Tua

Berita Terbaru

Guswanda Putra, S.Pi
(Pemerhati Kebijakan Publik)

Opini

Ironi HAKORDIA: Bukti OTT Gubri Lemah, KPK Cari Headline

Wednesday, 10 Dec 2025 - 11:36 WIB