TAJUKRIAU.com, PEKANBARU – Keputusan Rahayu Saraswati Djojohadikusumo untuk mundur dari jabatannya sebagai anggota DPR RI dari Partai Gerindra menuai sorotan dari berbagai kalangan, termasuk dari organisasi kepemudaan dan mahasiswa.
Salah satu suara datang dari Ketua Umum HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Pekanbaru, yang menyayangkan langkah tersebut dan menyebut mundurnya Rahayu sebagai sebuah kehilangan besar, tidak hanya bagi Gerindra, tetapi juga bagi representasi perempuan di parlemen.
“Rahayu Saraswati bukan hanya politisi, tapi juga simbol perjuangan perempuan muda yang aktif menyuarakan isu-isu penting seperti perlindungan anak, hak perempuan, dan keadilan sosial. Ketika sosok seperti ini memilih mundur, tentu kita patut bertanya: ada apa sebenarnya?” ujar Ketua Umum HMI Cabang Pekanbaru dalam keterangannya.
Menurutnya, kehadiran perempuan dengan kapasitas seperti Rahayu sangat dibutuhkan di ruang-ruang pengambilan kebijakan, terutama untuk menjaga keberagaman perspektif dalam legislatif. Ia menambahkan, mundurnya Rahayu menunjukkan bahwa bahkan politisi perempuan yang progresif bisa saja tergerus oleh dinamika politik yang tidak sehat.
“Gerindra kehilangan aset penting. Ini bukan hanya tentang satu kursi di DPR, tapi tentang hilangnya suara yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial,” tambahnya.
HMI Cabang Pekanbaru juga mendesak partai-partai politik untuk lebih serius memberikan ruang dan perlindungan politik kepada kader-kader perempuan yang punya integritas dan visi kerakyatan.
“Saat anak muda mulai tertarik pada politik, sosok seperti Mbak Rahayu bisa menjadi inspirasi. Tapi ketika mereka justru mundur, ini bisa memicu pesimisme baru terhadap dunia politik kita.”
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Partai Gerindra terkait pengunduran diri tersebut. Namun publik terus menantikan klarifikasi, mengingat posisi strategis Rahayu baik dalam partai maupun dalam dinamika parlemen. (RLS)






