PENEGAKAN HUKUM RESTORATIVE JUSTICE OLEH POLDA METROJAYA TERHADAP PENISTA AGAMA IBU SUKMAWATI TIDAK BOLEH DILAKUKAN, KENAPA?

by

Oleh: Tahang SH. M.H

Assalamu ‘alaikum WR.WB

Pertama-tama berbicara penegakan hukum melalui restorative justice itu artinya penegakan hukum yang melalui pendekatan rekonsiliasi/perdamaian yang dilakukan oleh pihak pelaku dan pihak korban, dengan kata lain penegakan hukum ini menyampingkan criminal justice system positive.

Jikalau kita melihat tindak pidana yang dilakukan oleh ibu Sukmawati yang diduga melanggar pasal 156a KUHP, ini termasuk delik formal artinya perbuatanya yang dilarang tampa memperhatikan akibat perbuatan itu sendiri, sementara sifat melawan hukum yang dilakukan oleh ibu Sukmawati dapat digolongkan dalam 2 (dua) hal yakni;

1. sifat melawan hukum secara formal dan
2. sifat melawan hukum secara materil,

Sifat melawan hukum secara formal ibu Sukmawati berarti melanggar ketentuan hukum pasal 156a KUHP dan sifat melawan hukum secara materil ibu Sukmawati melanggar nilai-nilai hukum yang dirasakan masyarakat, bertitik hal ini kita bisa melihat bagaimana perasaan kaum muslimin khususnya di republik Indonesia ketika ibu Sukmawati mengatakan “saya tidak tau syariat islam yang saya tau sari konde lebih indah dari pada cadarmu, saya tidak tau syariat islam yang saya tau suara kidung ibu Indonesia lebih merdu dari pada azanmu”. dengan spontan perasaan kaum muslimin di republik ini marah dan tidak menyenangkan.

Dalam hal kewenangan pelapor terhadap tindak pidana penista agama ini termasuk dalam delik biasa dengan kata lain siapapun bisa melaporkan hal ini, analisis ilmu hukum terhadap delik biasa tidak bisa dicabut tanpa alasan pembenar dan pemaaf baik secara formal maupun materiel.

Analisis, Kenapa penista agama dalam kasus ibu Sukmawati ini tidak boleh melalui pendekatan penegakan hukum restorative justice?

1. Alasan pertama, Berbicara tentang tindak pidana pasti ada pelaku dan ada korban (Victim), Pelaku penista agama dalam hal ini ibu Sukmawati sementara korban adalah seluruh kaum muslimin yang merasa marah dan tidak tentram/ tidak nyaman dengan pernyataan puisi ibu Sukmawati, yang secara otomatis jikalau polda metrojaya melakukan penegakan hukum dengan pendekatan restorative justice itu artinya polda metrojaya harus mendapatkan kalimat pernyataan damai yang secara langsung diberikan kaum muslimin direpublik ini dan tidak boleh diwakilkan oleh tokoh-tokoh islam tertentu, serta disertai syarat-syarat perdamainya.

Tentu hal ini tidak bisa dilakukan, karena kita banyak mendengarkan secara langsung maupun dimedia dari pernyataan ulama-ulama, habaib, para ustadz bahwa penista agama yang dilakukan ibu Sukmawati harus dihukum (dipidana) sebagai penjeraan dan pencegah.

2. Alasan kedua, para penegak hukum harus mencapai tujuan hukum itu sendiri yakni kepastian hukum, kemanfaatan hukum dan keadilan hukum. Jikalau kita melihat kasus puisi yang diucapkan ibu Sukmawati, dengan cara penegakan hukum restorative justice tentu hal ini melanggar tujuan hukum itu sendiri.

Dari sisi kepastian hukum polda metro jaya tentu tidak melaksanakan ketentuan hukum yang ada didalam pasal 156a KUHP, dari sisi kemanfaatan hukum hal ini tentu tidak bisa diraih kemanfaat hukumnya karena secara otomatis akan banyak penista-penista agama yang bermunculan dan terjadi konflik ditengah masyarakat, dari sesi keadilan hukum juga tidak tercapai baik keadilan positif hukum maupun keadilan kultural hukum (perasaan dan ketenangan kaum muslimin).

3. Alasan ketiga, dalam hal penghapusan pidana yang dilakukan polda metro jaya tidak bisa diterapkan alasan pemaaf baik secara formal maupun materiel. Alasan pemaaf secara formal tentu tidak memenuhi unsur pasal 44 aturan umum KUHP yakni karena jiwanya cacat (tidak waras), alasan pemaaf secara materil yakni pemberian maaf oleh kaum muslimin terhadap sanksi hukuman (pemidanaan) penista agama ibu kusmawati juga tidak diberikan oleh kaum muslimin.

Semoga tulisan ini bermanfaat.
Wassalam.

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu” (Al-Maa-idah 48)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *